CLASIFIED CULTURE | JOURNEY | 12 Juli 2019

Begini Cara Solo Menggairahkan Malam

Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran, Solo, Jawa Tengah.

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Mural sosok dua tokoh ini menyapa saya dikala tiba di kota kelahiran, Solo, Jawa Tengah. Ya, mereka adalah para calon presiden RI yang kini tengah bertarung. Namun dalam mural ini, tidak tampak pertarungan keduanya. Justru, keduanya saling berpelukan dengan balutan bendera merah putih.

Momen dalam gambar mural itu terjadi saat keduanya merayakan kemenangan atlet pencak silat, Hanifan Yudani Kusumah yang meraih medali emas dalam ajang Asian Games tahun lalu. 

Sudah hampir satu tahun saya tidak mengunjungi Kota Berseri ini. Banyak perubahan saya rasakan ketika saya menapakkan kaki kali ini di pusat kota, salah satunya suasana di area pedestrian Jalan Slamet Riyadi. 

Kawasan pertokoan di beberapa jalan protokol, kini dipercantik dengan berbagai mural. Salah satunya dengan mural Jokowi dan Prabowo tadi. Hanya berjarak sepuluh meter dari sana, ada pula mural bergambar Menteri Perikanan, Susi Pudjiastuti yang ditampilkan dengan cara berbeda. Wajah perempuan yang identik dengan kata "tenggelamkan!" itu dibuat sedemikian rupa hingga mirip dengan karakter tokoh DC Comic, Wonder Woman lengkap dengan mahkota perang di kepala.

Masih terkagum kagum dengan wajah baru kawasan ini, saya lanjutkan perjalanan. Paving blok yang tersusun rapi tampak tergenang air. Maklum saja, petang itu hujan baru saja reda. Hawa dingin membuat orang tak banyak lalu lalang.

Sampai di perempatan Jalan Gatot Subroto, saya melihat sketsa wajah Jendral TNI yang namanya diabadikan sebagai nama jalan itu. Di atas tembok toko, portrait setengah badan tokoh perjuangan militer dalam merebut kemerdekaan itu di cat warna hitam dengan latar kotak berwarna-warni, dari merah muda, hijau, kuning hingga biru.

Ruas jalan ini rupanya menjadi salah satu area dengan jumlah mural terbanyak. Pada akhir Oktober tahun lalu, puluhan anak muda dari berbagai komunitas seni, antara lain mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) berkumpul di kawasan ini. Dalam gelaran sebuah festival bertema "Solo adalah Solo" Volume #2, mereka bergotong-royong melukis mural.

Diselenggarakan mulai 2017, festival ini bertujuan untuk memberikan sentuhan artistik melalui mural di berbagai daerah di Kota Solo, antara lain Jalan Slamet Riyadi, Jalan Gatot Subroto hingga beberapa gang di Kampung Nonongan dan Kemlayan.

Masih banyak lagi mural lain yang berjejer di area ini, seperti mural yang berisikan dengan pesan sosial. Salah satu contohnya adalah mural dengan pesan untuk menghentikan perang. Sebuah tulisan “Make Love Not War” terpampang di bagian atas. Dibawahnya, sejumlah tentara tampak menenteng senjata layaknya di sebuah wilayah konflik, tapi bukannya seram, gambar mural itu mengemasnya dari sisi lain. Seragam doreng ala militer diganti dengan warna merah muda. Di helm yang mereka kenakan, dibubuhkan tanda hati.

Meski banyak tokoh penting dan pesan moral terpampang dalam rentetan mural disini, namun tetap tak lupa dengan ke-khasan Solo, yakni kota dengan kebudayaan tradisional, kesenian, busana atau penampilan pengantin Jawa, hingga sosok Abdi Dalem. 

Ingin bernostalgia dengan rasa teh Solo, saya mencoba mampir di satu angkringan di sudut gang kampung. Bagi saya, teh yang dibuat dengan cara direbus dengan air panas rasanya jauh lebih nikmat dibanding teh celup kemasan. Rebusan daun teh yang Nasgitel alias panas, legi (manis) dan kentel (kental) inilah yang susah saya temui di Jakarta. 

Setelah memesan satu gelas teh manis panas dan menunggu dibuat, saya mengeluarkan kamera dan kembali mengambil gambar. Kebetulan di samping tenda angkringan, ada lagi gambar mural berupa wajah Pak Jokowi. Presiden yang dulu memimpin Kota Solo hingga dua periode.

Sekembalinya ke angkringan, Ibu pemilik warung mengatakan bahwa mural-mural ini ramai dikunjungi saat malam hari. 

“Biasanya ramai kalau malam minggu Mas, ini sepi karena habis hujan. Banyak yang datang buat foto-foto”, jelasnya. 

Tampaknya kawasan ini mulai diubah menjadi salah satu destinasi wisata baru. Bila siang akan menjadi jejeran pertokoan untuk penggemar wisata belanja. Sementara saat malam, pemandangan berbeda akan disuguhkan. Deretan mural yang tersaji tentunya untuk memfasilitasi para penggemar foto selfie sampai wefie. Malam di Solo pun kini lebih bergairah.

 

Penulis: Agoes Rudianto

Editor: Fik

 

 


Photography By : Dokumentasi Kokerekayu

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

TAGGED :

Related Article

Koleksi piringan hitam makin hari harganya makin naik. Meskipun dari zaman ke zaman pembelinya makin ...
Waktu lihat video Jason Dennis lijnzaat main di venue skatepark Palembang saat Asian Games 2018, say ...
Buat saya, toko barang bekas dan barang antik adalah "museum" kecil-kecilan. Semua barang yang lampa ...
Buat saya, musik itu pancing energi, apalagi setelah kerjakan semua yang penting-penting dan lagi bu ...
Waktu saya lihat gitar listrik, yang identik dari benda satu ini adalah suara "grrrrr", "bzzz", dan ...
Tour? Memangnya tempat wisata? Atau memang bisa jadi tempat wisata Instagram? Enggak tahu juga. Engg ...
"Dulu waktu awal-awal kerja di daerah Cikini, gue tinggal jalan sedikit ke Jalan Surabaya kalau lagi ...
Tidak banyak yang saya ingat dari tahun 1999. ...
Kalau ngomongin Rossi Musik tuh ingetnya underground, abang-abangan metal, outfit hitam dari ujung k ...
Legoh menyajikan kuliner Manado yang enak di lidah. Namun siapa sangka juru masaknya adalah drummer ...
Circa 2000-an skena dipenuhi dengan manusia-manusia rambut berponi hampir nutupin mata ...
Jam menunjukan hampir pukul 12 malam ketika Saya memasuki pelataran parkir Boshe VVIP Club, Jogja. ...
Selamat dan sukses buat Suneater Coven sudah resmi sebagai kolektif musik baru ibukota yang akan dip ...
Penggunaan plastik harus segera dihentikan. Sebelum laut penuh plastik lalu sampahnya kembali ke mej ...
Pada tulisan sebelumnya saya mengenang 1999 sebagai tahun paling underrated dalam sejarah musik mode ...
Mungkin saja sebagian anak muda millenial sekarang bakal punya anggapan ...
Tren kedai kopi susu kekinian nampaknya masih akan terus berlanjut panjang. ...
K-pop lebih dari sekadar “musik berbahasa asing.” K-pop adalah bagian dari gelombang budaya Kore ...
Jika kegiatan charity atau sumbangsih sosial dilakukan dengan cara memberi kebutuhan pokok dan diisi ...
Digitalisasi tata suara membawa banyak manfaat bagi berbagai pihak ...
Sebelum semakin banyak yang hilang tak tentu rimbanya, karya musik Indonesia dapat diselamatkan lewa ...
Digitalisasi adalah cara jitu saat ini untuk melestarikan sejarah musik Indonesia. Tentunya dengan p ...
Industri musik Indonesia sedang sedang gemar melakukan peralihan format rekaman dari bentuk keping c ...
Di Indonesia kebiasaannya justru lebih sering mengeluarkan single dibanding full album. ...
Biar lebih membaur, lagu nasionl harus kita perdengarkan dan dendangkan di banyak tempat umum. ...
Musisi yang gemar menulis dan masih aktif merilis karya, ia sedang aktif bekerja di sebuah digital a ...
Kolektor dan pecinta musik Indonesia ini mendedikasikan hasrat bermusiknya lewat pengarsipan musik b ...
Vokalis yang juga punya kompetensi di bidang strategi konten digital. Ia implementasikan lewat .Feas ...
Saya berharap budaya pengarsipan ini tidak hilang begitu saja dan menjadikan kita generasi yang hila ...
Meski jadi salah satu yang kena hantaman krisis akibat pandemi, berbagai brand lokal ini turun tanga ...
Hal-hal simpel yang mungkin kita lupakan ternyata berpengaruh pada kesehatan mental kita di masa pan ...
Ngerasa tidur enggak nyenyak atau bahkan susah merem padahal sudah tengah malam? Bisa jadi lo kena g ...
Buat lo para penggemar Super Mario Bros, kayaknya tahun ini bakal jadi momen spesial buat lo anak 90 ...
Sebagai fans film fiksi Marvel, lo pasti bertanya-tanya gimana kelanjutan Black Panther tanpa sosok ...
Please wait...