CLASIFIED CULTURE | CONTEMPORARY | 17 Agustus 2019

Pluralitas Jogja dalam Bakpia

Bakpia merupakan salah satu produk kuliner ikonik Yogyakarta. Asal muasal penamaannya tidak begitu diketahui secara pasti.

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Bakpia merupakan salah satu produk kuliner ikonik Yogyakarta. Asal muasal penamaannya tidak begitu diketahui secara pasti. Ada yang ngomong bahwa bakpia berasal dari Tou Luk Pia yang berarti kue kacang hijau. Tapi ada juga yang ngomong kalau bakpia itu berasal dari kata bak yang berarti daging babi, dan pia yang berarti kue yang diolah dari tepung. So, bakpia bisa saja disebut kue dengan kulit yangberbahan dasar tepung, yang serupa dengan kulit pastry, berisikan daging babi.  

 

Di samping asal muasal penamaan, satu hal yang pasti ialah bakpia merupakan produk budaya kuliner hasil asimilasi antar dua kebudayaan atau lebih, atau produk yang “hibrid” (istilah yang merujuk pada pertukaran budaya yang digagas oleh Homi Bhabha, pemikir pascakolonial) kalau misalnya ingin dibicarakan dalam ranah akademis. Produk yang dianggap berasal dari Tiongkok, secara perlahan dinegosiasikan dengan masyarakat Jawa di Yogyakarta sehingga menjadi produk kuliner yang dianggap mewakili kota Yogyakarta.  

 

Perubahan dari negosiasi tersebut dapat ditemukan dari pergeseran isian yang awal mulanya berisi daging babi, dan menggunakan minyak babi dalam pengolahannya, menjadi berisi kacang hijau, dan tidak lagi menggunakan minyak babi.  

 

Pergeseran bahan dasar ini bermula dari kesadaran bahwa bakpia memiliki nilai komoditas yang berharga di masyarakat Yogyakarta, yang mayoritas merupakan penduduk muslim. Bakpia yang mulanya merupakankudapan sehari-hari dan perayaan untuk komunitas Tionghoa peranakan, menjadi produk bernilai jual. Lantas kapan sebenarnya bakpia yang sudah hibrid tersebut mulai populer di Yogyakarta?  

 

Salah satu sumber mengatakan bahwa bakpia mulai populer pada tahun 1948 yang penjualannya dirintis oleh Kwik Sun Kwok. Pada tahun ini pula, pergeseran bahan sudah dimulai. Bakpia sudah berakulturasi dengan budaya Jawa. Kwik Sun Kwok sendiri lah yang mencetuskan ide pertama kali untuk mengganti isian bakpia (dari daging menjadi kacang hijau).  

 

Penjualan bakpia dimulai di kampung-kampung di Yogyakarta, dibungkus dengan besek (wadah yang dibuat dari anyaman bambu) tanpa merek. Salah satu kampung yang menajadi ikon bakpia ialah kampung Pathok yang sekarang juga menjadi sentra bakpia. Salah satu contoh bakpia pathok yang cukup populer ialah Bakpia Pathok 25. Pada tahun 1980, bakpia Pathok 25 mulai dijual dengan kemasan yang lebih modern, dengan kemasan baru dan dengan merek dagang resmi sesuai dengan nomor rumah yang kemudian diikuti oleh bakpia-bakpia dengan merek yang berbeda pula (sesuai nomor rumah).  

 

Selain Bakpia yang dapat ditemukan di sepanjang jalan pathok, sekarang muncul nama-nama baru yang semakin populer dan tentu menyajikan bakpia dengan rasa dan gaya yang berbeda. Misal Bakpia Kurnia Sari, Bakpia Merlino, Bakpiaku, dan yang terbaru merupakan produk Bakpia Wong Jogja yang merupakan produk bakpia yang menjadikan Baim Wong (selebritis Indonesia) sebagai brand ambassador-nya.  

 

Selain itu juga terdapat kreasi bakpia kukus oleh Bakpia Tugu yang merupakan hasil interpretasi ulang bakpia konvensional. Bakpia yang disajikan oleh tiap merek tersebut memang memiliki bentuk dan rasa-rasa yang berbeda.Tetapi, semuanya dimulai dari akar yang sama dengan penamaan yang sama.  

 

Dari sejarah singkat bakpia tersebut, dapat dilihat sedikit contoh peran Tionghoa perantauan yang membentuk budaya kuliner Yogyakarta (bahkan Indonesia) yang unik dan menarik. Substitusi bahan yang dilakukan menjadi bukti adanya kesadaran betapa pentingnya bernegosiasi dengan masyarakat lokal. Mungkin negosiasi tersebut menjadi faktor penting dalam klaim bahwa bakpia sebagai produk yang dapat mewakili pariwisata Yogyakarta.  

 

Dari perjalanan “lidah” dan sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa, culture comes through foods, alias budaya hadir melalui kuliner. Selamat makan, selamat berbudaya!

 

Penulis: Hugo S. Prabangkara

Editor: Fik


Photography By : Istimewa



Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

TAGGED :

Related Article

Festival Kebudayaan Yogyakarta bisa dibilang sudah menjadi hajatan tahunan dalam ruang kesenian Jogj ...
Seni itu merupakan kombinasi antara aksi dan reaksi! ...
Keindahan alam dan seisinya punya magnet tersendiri untuk mendatangkan para wisatawan. ...
Walaupun siapa saja bisa mengakses dan memainkan musik digital, teori musik dasar menjadi hukum yang ...
Sisi manajerial yang diformat sendiri hingga perilaku para booking agency menentukan keberlangsungan ...
Tren meng-cover atau membawakan ulang lagu sudah jamak di masa kini. ...
Belum lama ini sempat heboh kasus data akun pengguna sebuah e-commerce besar di Indonesia dibobol ha ...
Jangan sampai deh, karena corona lo jadi nggak update. Coba manfaatin smartphone lo buat tetap updat ...
Main game nggak selamanya buruk, terutama di tengah pandemi COVID-19 saat ini. Selain seru, ternyata ...
Mau nongkrong di coffee shop terhalang PSBB COVID-19? Tenang, kalau lo mau ngopi nggak perlu ke coff ...
Bosen nggak ada teman ngobrol selama karantina diri di rumah? Yaa, coba cari teman baru saja lewat d ...
Instagram memang udah lama jadi sarana bagi para influencer untuk mendulang cuan dari postingan berb ...
Lo punya cita-cita jadi astronot? Atau mau jajal hidup di luar angkasa? Kayaknya, mimpi lo bisa terw ...
Buat lo para pecinta skate, ada kabar gembira nih. Bulan September nanti, game legendaris Tony Hawk ...
Nonton konser musik di dalam mobil? Mungkin kedengerannya aneh, tapi beneran ada lho, sob. Konser dr ...
Please wait...