CLASIFIED ARTS | SHOWCASE | 24 Agustus 2019

Promotor Musik Kecil-kecilan yang Menjanjikan

Hadirnya para musisi mancanegara nggak lepas dari peran promotor konser.

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Hadirnya para musisi mancanegara nggak lepas dari peran promotor konser. Promotorlah  yang berjasa mendatangkan idola kita sehingga para diehard fans bisa menyaksikan mereka dari dekat. Kita pun melewati fase dimana dulu hanya punya festival-festival sejenis Java Rockin’Land dan berharap banyak kepada om Adrie Subono bisa menghadirkan kembali musisi mancanegara selevel Smashing Pumpkins, Happy Mondays, Wolfmother, dan The Cranberries hingga Mew yang pada akhirnya band satu ini jadi ketagihan bolak balik manggung di Indonesia. 

Menjadi promotor band internasional circa 2010 skalanya harus sebesar Java Musikindo, tapi lain sekarang yang sudah banyak promotor musik bermunculan, mulai dari yang berskala komunitas hingga besar. Salah satunya adalah noisewhore, sebuah kolektif musik kecil-kecilan dari Jakarta yang identik menyajikan gelaran musik dengan line up band-band yang mempunyai following cukup kuat di Jakarta. 

Walau awalnya dimulai sebagai blog musik dan zine, noisewhore telah berhasil merepresentasikan semangat musik anak muda Indonesia untuk terus berkarya. Argia Adhidhanendra, salah satu inisiator di balik noisewhore ini bersama teman-teman sebayanya berhasil mematahkan stigma menjadi promotor musik harus mapan dan anak lama, nggak mengekor konsep festival promotor konservatif pada umumnya,  juga ketajaman“digging  di era digital saat ini. 

noisewhore nggak hanya berhasil membawa idola-idola indie internasional, mereka juga turut memberikan platform bagi talenta lokal untuk tampil bersama. Seperti membawa band internasional mulai dari Peach Pit, Cosmo Pyke, Unknown Mortal Orchestra, hingga Snail Mail dan menggabungkan aksi mereka dengan kumpulan musisi lokal. Yang tentunya mewarnai skena musik di Jakarta dengan gelaran musiknya di kemudian hari, dan pergerakan ini mengingatkan kita kembali pada eranya BB’s dan Parc. 

Kurasi bandnya juga cukup berani dengan mencampur berbagai genre dalam line up-nya. Mulai dari post-hardcore, shoegaze, indiepop, city pop, hip hop, indie rock, hingga pop jazz. Anak-anak muda ini menghadirkan konser berskala mikro dengan mendatangkan Nothing, Fazerdaze, A Place to Bury Strangers, Homeshake, Sunset Rollercoaster, Japanese Breakfast, American Football, hingga Jerry Paper. noisewhore tahu apa yang mau mereka jual dan itu adalah salah satu karakter promotor festival musik berkualitas.

 

Penulis: Raditya Nugroho

Editor: Fik


Photography By : Istimewa



Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

TAGGED :

Related Article

Eyehategod adalah band sludge metal asal Amerika Serikat, tepatnya New Orleans, Louisiana. ...
Apakah nama besar yang diusung bisa mendulang kesuksesan universe superhero lokal ini? ...
Please wait...