CLASIFIED MUSIC | ORIGINS | 27 Juli 2020

Rasakan Kemeriahan Festival Glastonbury Lewat Film Dokumenter Ini

Festival Glastonbury tahun ini terpaksa ditunda sebagai efek pandemi COVID-19. Namun untuk mengobati kekecewaan tersebut, lo bisa menonton pertunjukan online dari Victoria and Albert Museum (V&A) di London.

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Kalau lo pecinta musik pasti tahu dong, Festival Glastonbury? Yup, bener banget, salah satu festival musik terbesar di dunia ini awalnya akan diadakan pada 24-28 Juni 2020, tapi terpaksa diundur akibat pandemi COVID-19. Pasti lo sebel kan, enggak bisa lihat idola lo di sana. Jangan keburu kecewa, kerinduan lo sama Festival Glastonbury akan terobati dengan film dokumenter Glastonbury. 

Film-film dokumenter ini selain menjawab kerinduan lo sama Festival Glastonbury juga bisa memanjakan mata lo karena efek visualnya yang eyegasm. enggakheran kalau Festival Glastonburyselalu dinanti banyak penggemar. Karena festival yang satu ini telah melalui perjalanan yang cukup panjang sejak pertama kali digelar.

Sejarah Festival Glastonbury

Bagi lo yang belum tahu, awalnya Festival Glastonbury bukan sebuah acara akbar seperti sekarang ini. Sejarah Glastonbury pertama kali diadakan oleh seorang peternak sapi perah, Michael Eavispada 1970. Ia terinspirasi dari pertunjukan hippie, lalu mengundang orang untuk bersukaria di ladangnya di Somerset dalam acara festival Pop, Folk, dan Blues. 

Pada acara tersebut, Eavis menyajikan penampilan musik, tarian, puisi, teater, kerlap kerlip lampu, hingga susu sapi gratis dari peternakan Worthy Farm. Karena harga tiketnya tergolong murah, cuma 1 Poundsterling, membuat banyak masyarakat tertarik untuk mampir. Konser Glastonbury pertama berhasil mendatangkan seribu penonton. Sebuah awal yang keren, kan?

Eenggakselamanya Festival Glastonbury untung. Nyatanya, pada 1979 Michael Eavis dan tim kehilangan banyak uang dan tidak mendapatkan keuntungan dari festival tersebut. Hal ini berdampak pada 1980, di mana Festival Glastonbury tidak diadakan. 

Namun pada tahun 1981, Festival Glastonbury kembali diadakan, dan menjadi titik balik dari tim manajemen. Dari tahun ke tahun Festival Glastonbury mengalami peningkatan. Bahkan pada 1998 festival ini berhasil menampilkan lebih dari 1.000 artist di 17 panggung. 

Gokilnya, pada tahun tersebut Festival Glastonbury terkena cuaca terburuk sepanjang pengadaannya. Tapi bukannya penonton bubar, malahan para penonton banyak bermain lumpur, sehingga tercetuslah olahraga baru; mud surfing.

Lima dekade sepeninggal Eavis, visinya untuk membuat sebuah festival musik besar sudah terwujud. Saat ini Festival Glastonbury dikenal sebagai acara yang paling diminati banyak orang. Hal ini terlihat dari tahun ke tahun terdapat lonjakan penonton festival. Hebatnya, tiket Festival Glastonbury selalu terjual habis dalam hitungan menit. 

Seiring perjalanannya, Festival Glastonbury juga mampu mengundang berbagai bintang internasional yang sedang naik daun sebagai pengisi acara. Sejumlah nama-nama bekenyang pernah menjadi pengisi acara di Glastonbury antara lain; Foo Fighter, Katy Perry, Ed Sheeran, Jon Hopkins, Metallica, Jay-Z, Stevie Wonder, Billie Eilish, Sam Smith, Chipmunk, Jason Mraz, hingga Coldplay. 

Dari sejarah Glastonbury ini kita bisa melihat kegigihan mimpi Eavis. Coba bayangin kalau si Michael Eavis memutuskan berhenti menyelenggarakan Festival Glastonbury pada 1979. Pasti kita enggakakan pernah tahu festival sebesarini, kan?

Kangen Festival Glastonbury?

Sayangnya, bertepatan dengan 50 tahun penyelenggaraan Festival Glastonbury, festival ini harus ditiadakan. Pertunjukan tersebut akan diadakan secara  online oleh Victoria and Albert Museum (V&A), London. 

Dalam rangka merayakan ulang tahun ke 50 Festival Glastonbury ini museum V&A juga meluncurkan pameran online yang akan berlangsung sepanjang pekan. Museum ini memutar rekaman dan gambar dari arsip Festival Glastonbury. 

Banyak arsip langka yang bakalan membawa kita nostalgia ke awal-awal festival ini digelar, sepertisiaran langka, poster, tiket, gambar arsitektur, playlist, tirai soundscape, hingga rangkuman mode fesyen dari tahun ke tahun. Koleksi-koleksi ini didapat dari pengunjung festival terdahulu. 

Selain nonton pertunjukan online di Museum V&A, lo juga bisa merasakan keseruan Festival Glastonbury lewat video dokumenternya. Nah, berikut ini 3 film dokumenter Glastonbury yang bisa lo tonton buat ngobatin kerinduan lo.

Glastonbury (2006)

Bagi lo yang lebih tertarik sejarah Glastonbury, film dokumenter ini sangat recomended. Film ini tidak hanya memotret tentang keseruan acara dan kemegahan panggung, tapi juga hal-hal unik yang terjadi di baliknya. 

Julien Temple selaku produser memasukan unsur-unsur lain, seperti hubungan festival ini dengan para pelancong hippies, bahkan hal-hal di belakang layar yang jarang disorot. Dalam film dokumenter Glastonbury ini lo bakalan melihat sisi lain dari Glastonbury selain suasana festival yang riuh. Daripada semakin spoiler mending lo tonton sendiri, deh.

Glastonbury: After Hours/Glastopia

Film dokumenter Glastonbury yang satu ini cukup tenar di kalangan pecinta musik. Dari film dokumenter karya Julien Temple ini kita bisa melihat perjalanan panjang Festival Glastonbury. Film menampilkan cuplikan kisah-kisah dari 35 tahun pertama perjalanan Michael Eavis. 

Film ini bakalan bikin lo tenggelam dalam atmosfer festival yang ngangenin, meriah tapi inspiratif. Dari Glastonbury: After Hours/Glastopia lo bisa mendengarkan penampilan Coldplay, David Bowie, hingga Oasis.

Meat Rack

Meat Rack merupakan film dokumenter karya Harry Lawson yang bisa membawa lo masuk dalam suasana riuh Festival Glastonbury. Pengambilan gambar film dokumenter ini dilakukan sejak 2017 silam di sebuah acara bertajuk Downlow’s 10th anniversary

enggakhanya itu, film dokumenter Glastonbury ini juga dikemas dengan soundtrack berintensitas tinggi jadi kerasa banget crowd-nya. Lawson memanfaatkan sinema arthouse untuk mengerjakan dokumenter ini, sehingga visualnya benar-benar surealis dan memanjakan mata. 

Nonton Meat Rack juga bisa bikin lo tahu sekilas proses pembuatan venue Festival Glastonbury. Kerennya, nih, proses pembuatan film dokumenter ini dikerjakan seorang diri oleh Harry Lawson, lho. Niat banget, kan, buat mengenang sejarah panjang Festival Glastonbury.

Nah, mending lo buruan deh, intip keseruan Festival Glastonbury dari film-film dokumenter di atas.


Photography By : Dok. Shutterstock



Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Related Article

Semangat Do It Yourself (D.I.Y) adalah sebuah credo wajib bagi anak-anak punk. Etos itu pun berlaku ...
Album penuh kedua Rich Brian yang hidup dengan pendekatan berbeda ...
Kesan pertama saya saat melihat aksi panggung Pemuda Sinarmas “Njir, ribet banget sih? Nge-DJ pake ...
Rap dan Hip-hop adalah sebuah genre musik yang kerap kali dikaitkan dengan Black Culture. ...
Cepat, bising namun harmonis. Tiga kata itu mungkin cukup tepat untuk menggambarkan musik yang dirac ...
Berbicara mengenai musik death metal di Yogyakarta tentu saja tak akan lepas dari sebuah band bernam ...
Dunia memang tidak bisa diprediksi bagi Kuntari. Setelah menggeluti jazz, world music, dan neoklasik ...
Siapa tak kenal almarhum Gesang, maestro Keroncong Indonesia? ...
Selang lima tahun, akhirnya Dialog Dini Hari melepas album terbarunya. ...
Single soal kemerdekaan dan megenrekan diri mereka ‘90 rock electronic dance indie ...
Baru-baru ini, pihak film Gundala mengumumkan tujuh lagu terpilih dalam sayembara #GundalaSongTribut ...
Dipha Barus,--di tanah air, nama DJ yang baru dinobatkan sebagai DJ of The Year di Paranoia Awards 2 ...
Pada akhirnya ini semua bercerita tentang gairah. Tulang-tulang yang bengkok dan kita masih tetap bi ...
Bangkitnya The Godfather of Broken Heart ...
Melihat lebih dekat sosok Anda yang karyanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Latar belakang dan p ...
Ada pangkal yang memulai seteru sampai sikap dan prinsip yang tercermin dalam lagu. ...
a techo music is not just a genre, its more than music, its a spirit of the life to rise the adrenal ...
“Semua yang Asri Hancur, Semua yang Asli Luntur.” ...
Pecinta musik elektronik berduka atas kepergian Florian Schneider, co-founder dari Kraftwerk pada Me ...
Ada beberapa musisi luar negeri yang membuktikan bahwa adanya pandemi nggak jadi halangan untuk mere ...
Sebagai pecinta musik, rajin nonton konser sampai koleksi merchandise itu hal biasa. Biar lo naik le ...
Please wait...