CLASIFIED MUSIC | ORIGINS | 24 Oktober 2020

Unik! Musisi Lokal Ini Hubungkan Tanaman ke Synthesizer

Duo elektronik asal Bandung, Bottlesmoker, menciptakan musik dengan cara yang unik. Mereka menyambungkan tanaman ke synthesizer buat nyari nada-nada acak yang bakal mereka susun jadi lagu!

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Kreativitas musisi lokal makin ajaib aja nih, sob. Belum lama ini, duo elektronik asal Bandung, Bottlesmoker, ngelakuin hal unik bin ajaib, lho. Grup yang digawangi Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie) menyambungkan tanaman ke synthesizer buat nyari nada-nada acak. Lo enggak salah baca, kok, memang dihubungkan tanaman. Enggak masuk akal, kan?

Bottlesmoker menangkap nada dari resonansi yang dihasilkan tanaman dari proses mereka menyerap air dan melakukan interaksi acak. Lalu, mereka merangkai nada-nada dari suara tanaman menjadi satu kesatuan nada harmonis. 

Teknisnya, Bottlesmoker mencoba menangkap biodata dari suatu tanaman. Hasilnya akan diterjemahkan dalam bentuk midi notes lewat synthesizer. Lo bisa lihat hasil eksperimen ajaib dari Bottlesmoker ini di akun Instagram Goethe Institut Bandung. 

Ide dadakan hubungkan tanaman dengan synthesizer

Ide buat menghubungkan tanaman ke synthesizer ini diperoleh secara tiba-tiba, lho. Awalnya, Bottlesmoker sedang menulis materi lagu untuk album Puraka. Namun, mereka justru menemukan buku berjudul Hallucinogenic Plants karya Richard Evans Schultes. 

Dari buku inilah Bottlesmoker mulai tertarik dengan tanaman. Mereka juga tertarik dengan riset yang berkaitan dengan sonic bloom, yakni teknologi yang mengembangkan tanaman menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi.

Selain bikin terpukau, karya Bottlesmoker ini bikin kita lebih rileks dan dapat efek meditasinya. Meditasi merupakan bagian penting dalam kehidupan untuk menciptakan rasa tenang, sadar, dan damai. Apalagi, di tengah kondisi pandemi gini yang secara enggak langsung bikin jiwa jadi uring-uringan dan ngerasa suntuk. Tanaman dan bunyi dianggap sebagai media yang tepat untuk mencapai titik meditasi di tengah pandemi COVID-19. Bottlesmoker melihat ini jadi satu peluang bagus untuk berkarya.

Konser “Plantasia” Bottlesmoker untuk Tanaman

Nama Bottlesmoker sudah nggak asing lagi di skena musik indie Indonesia. Enggak hanya level nasional, Bottlesmoker juga mengepakan sayap sampai ke ranah internasional, lho. Bottlesmoker selama ini fokus pada eksplorasi ritme lokal dan objek-objek di sekitar, mulai dari jenis ritme kesenian tradisi hingga objek-objek lokal. Eksplorasi musik dari Bottlesmoker juga beragam, mulai dari music tribal, psychedelic, down tempo, hingga ambient.

Sebelum karya out of the box tersebut, Bottlesmoker juga pernah bikin konser buat tanaman. Konser tersebut bekerja sama dengan Lou Belle Space, Bandung, yang diberi judul Plantasia. 

Pertunjukan ini secara eksklusif diperuntukan bagi tanaman, lho. Lo kebayang enggak sob, bikin konser tapi yang nonton tanaman? Pemilik tanaman boleh ikut? Enggak, konser ini hanya akan dihadiri oleh tanaman, pemiliknya hanya boleh menitipkan tanamannya di Lou Belle Space dan menikmati konser secara live stream.

Tapi tenang aja, konser duo musisi lokal tersebut sudah sesuai dengan riset mengenai pengaruh musik terhadap tanaman. Pola-pola musik yang ditampilkan tujuannya untuk memengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman, kesuburan, hingga warna daun. Konser Plantasia berlangsung selama 90 menit dan dihadiri oleh 50 tanaman. 

Kok, hanya 50? Menurut personil Bottlesmoker, jumlah ini berkaitan dengan keterbatasan tempat mereka menggelar konser. Bottlesmoker sendiri berharap dapat menggelar konser di tempat yang lebih luas ke depannya sehingga bisa menampung lebih banyak tanaman.

Adapun mayoritas tanaman yang menjadi penonton konser Plantasia adalah jenis house plants atau tanaman rumahan. Di konser tersebut, Bottlesmoker memainkan musik repetitif dengan sentuhan nada klasik di sepanjang konsernya. Bottlesmoker memadukan unsur musik dengan frekuensi berkisar di angka 5.000-5.050hz. 

Setelah memberikan terapi musik untuk tumbuhan, Bottlesmoker berharap bisa menerapkan hal serupa pada orang-orang gangguan jiwa. Lebih dari itu, Bottlesmoker berharap lagu-lagu mereka bisa diputarkan di rumah sakit jiwa sebagai media terapi bagi penderita gangguan jiwa.


Photography By : Dok. Shutterstock

Share buat tambahin poin lo!
Share   Tweet

Related Article

Semangat Do It Yourself (D.I.Y) adalah sebuah credo wajib bagi anak-anak punk. Etos itu pun berlaku ...
Album penuh kedua Rich Brian yang hidup dengan pendekatan berbeda ...
Kesan pertama saya saat melihat aksi panggung Pemuda Sinarmas “Njir, ribet banget sih? Nge-DJ pake ...
Rap dan Hip-hop adalah sebuah genre musik yang kerap kali dikaitkan dengan Black Culture. ...
Cepat, bising namun harmonis. Tiga kata itu mungkin cukup tepat untuk menggambarkan musik yang dirac ...
Berbicara mengenai musik death metal di Yogyakarta tentu saja tak akan lepas dari sebuah band bernam ...
Dunia memang tidak bisa diprediksi bagi Kuntari. Setelah menggeluti jazz, world music, dan neoklasik ...
Siapa tak kenal almarhum Gesang, maestro Keroncong Indonesia? ...
Selang lima tahun, akhirnya Dialog Dini Hari melepas album terbarunya. ...
Single soal kemerdekaan dan megenrekan diri mereka ‘90 rock electronic dance indie ...
Baru-baru ini, pihak film Gundala mengumumkan tujuh lagu terpilih dalam sayembara #GundalaSongTribut ...
Dipha Barus,--di tanah air, nama DJ yang baru dinobatkan sebagai DJ of The Year di Paranoia Awards 2 ...
Pada akhirnya ini semua bercerita tentang gairah. Tulang-tulang yang bengkok dan kita masih tetap bi ...
Bangkitnya The Godfather of Broken Heart ...
Melihat lebih dekat sosok Anda yang karyanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Latar belakang dan p ...
Ada pangkal yang memulai seteru sampai sikap dan prinsip yang tercermin dalam lagu. ...
a techo music is not just a genre, its more than music, its a spirit of the life to rise the adrenal ...
“Semua yang Asri Hancur, Semua yang Asli Luntur.” ...
Pecinta musik elektronik berduka atas kepergian Florian Schneider, co-founder dari Kraftwerk pada Me ...
Ada beberapa musisi luar negeri yang membuktikan bahwa adanya pandemi nggak jadi halangan untuk mere ...
Sebagai pecinta musik, rajin nonton konser sampai koleksi merchandise itu hal biasa. Biar lo naik le ...
Festival Glastonbury tahun ini terpaksa ditunda sebagai efek pandemi COVID-19. Namun untuk mengobati ...
Ada kabar baik nih buat fans Oasis, mereka bakalan luncurin koleksi vinyl spesial buat ngerayain 25 ...
Kata siapa pandemi COVID-19 bikin kreativitas musisi tersendat? Buktinya, Muse malah jadikan berbaga ...
Tingginya antusiasme TikTok memberikan pengaruh baik pada band rock 60-an asal London, yaitu Fleetwo ...
Please wait...